Lembar Kesepuluh
"Belenggu Kesedihan" Sudah lama kamu tak jumpa dengaku, akhir-akhir ini kulihat kamu sedang bahagia, rupanya tak ada beban yang tak terlalu begitu memberatkan mu, tak banyak alunan masalah yang berkeliaran di pikiranmu. Sebentar saja kamu mencoba itu rasanya sudah luar biasa, bahkan diluar dugaanmu. Sejak saat itu kamu tak mengunjungi ku, karena pikiranmu sedang bahagia kamu lupa caranya untuk mengukir untaian kata pada selembar kertas. Namun berbeda dengan hari ini, kamu merasakan belenggu kesedihan yang begitu amat jelas dari gurat wajah mu, kulihat kamu sedang berbicara pada batinmu, perkataan mu sangatlan benar tentang nya. Seolah-olah rasa yang kau keluarkan begitu nampak jelas. Jika batinmu bisa berbicara mungkin ia akan berteriak seolah-olah rasanya ingin pindah tempat persinggahan. Rupanya kamu harus bisa bersabar lagi karena tempat persinggahanmu akan telah usai. "Di persinggahan merasakan sesak dada, saat itu juga belenggu kesedihan menghampiri"