Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2022

Lembar Kesepuluh

 "Belenggu Kesedihan" Sudah lama kamu tak jumpa dengaku, akhir-akhir ini kulihat kamu sedang bahagia, rupanya tak ada beban yang tak terlalu begitu memberatkan mu, tak banyak alunan masalah yang berkeliaran di pikiranmu. Sebentar saja kamu mencoba itu rasanya sudah luar biasa, bahkan diluar dugaanmu. Sejak saat itu kamu tak mengunjungi ku, karena pikiranmu sedang bahagia kamu lupa caranya untuk mengukir untaian kata pada selembar kertas.  Namun berbeda dengan hari ini, kamu merasakan belenggu kesedihan yang begitu amat jelas dari gurat wajah mu, kulihat kamu sedang berbicara pada batinmu, perkataan mu sangatlan benar tentang nya. Seolah-olah rasa yang kau keluarkan begitu nampak jelas. Jika batinmu bisa berbicara mungkin ia akan berteriak seolah-olah rasanya ingin pindah tempat persinggahan. Rupanya kamu harus bisa bersabar lagi karena tempat persinggahanmu akan telah usai.  "Di persinggahan merasakan sesak dada, saat itu juga belenggu kesedihan menghampiri"

Lembar Kesembilan

"Menghitung Hari" Sudah tinggal berapa hari lagi kamu harus terus seperti ini, segala kesedihanmu nampak jelas di raut wajahmu. Sesekali kamu tersenyum namun yang tampak hanya guratan kesedihan yang terlihat. Menuju 193 Hari lagi kamu tunggu, hari dimana kebahagiaan akan hadir, sebuah perjalanan baru akan di mulai kembali. Mungkin saat itu juga kamu akan menjadi manusia yang bersyukur, dan mencintai dirimu. Seolah kesedihan akan hilang, Hari itu juga luka batin mu akan pulih.  Begitu bahagianya kamu menantikan hari itu, hari dimana yang kamu tunggu-tunggu selama ini. Hari itu juga kamu mengucapkan selamat untuk dirimu.  "Tanpa Jeda di antara batin-batin yang berbicara"

Lembar Kedelapan

"Tutur Batin" Ada apa dengan kamu akhir-akhir ini, semuanya terasa sendu. Hari-hari mu begitu menyedihkan. Sesekali kamu merasakan ini bukan kamu. Kesakitan-kesakitan yang selama ini hadir justru membuatmu begitu sendu menjalani hidup. Jujur kamu berusaha untuk kuat saat itu, walaupun tak ada yang menguatkan. Merasa tak sempurna di banding dengan yang lain, rendah, dan bahkan kamu sendiri berusaha untuk tidak terlihat sedih, lemah tapi apa daya. Semuanya seolah-olah berpihak kepada mu.  Batinmu seolah berkata seperti ada yang salah di hidupmu saat itu, bahkan kesakitan yang selama ini di rasakan kamu benar-benar menyembunyikannya dari semua orang. Orang-orang pun enggan menanyakan apa yang kamu rasakan saat itu. Justru kamu berhasil, ya berhasil menyembunyikan semua luka batinmu dari semua orang.  "Luka yang kamu rasakan begitu dalam dan biarkan batin mu berbicara"

Lembar Ketujuh

"Goresan Hitam Di Gelapnya Malam" Setiap malam begitu banyak ketakutan yang datang, seolah-olah semuanya berkumpul merayakan pesta. Hingga saat itu juga kegelisahanmu kembali menghantui mu, pikiran-pikiran yang sudah kamu lupakan kini ia datang lagi. Saat itu juga kamu hanya bisa berteman dengan malam yang sunyi, bebicara dengan dinginnya angin dan di temani suara petikkan jam.  Berjam-jam kamu hanya diam, semikirkan sesuatu yang semestinya tak usah di pikirkan. Sakit hati rasanya, mengapa semua nya bisa terjadi. Apakah semua orang juga sama, memiliki perasaan yang sama. Dalam heningnya malam kamu selalu berdoa agar setiap malam mu indah, bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan apapun yang hadir dalam pikiran.  "Hingga datangnya pagi yang memperlihatkan senyumnya, kamu masih menatap dinding-dinding kamar, saat itu juga kamu merasakan ada batin yang bertutur" -Selembarkertas-

Lembar Keenam

"Hari-hari yang kosong, bak Rumah tak bertuan" Sudah lama berjalan menelusuri sesaknya ruang hidup, sesekali kamu menatap langit yang begitu tinggi saat itu juga seolah-olah langit mengisyaratkan bahwa kamu tidak sendiri. Namun entah mengapa, rasanya masih saja hari-hari ini kosong, bahkan kamu sendiri pun tak tahu apa yang kamu lakukan saat itu. Rasanya saat itu kamu tak ingin singgah di persinggahan yang kosong, kamu terus berjalan menelusuri ruang hidup. Yang entah tujuan akhirnya ada dimana. Sesedih itu hari ini, tak ada seorang pun yang bisa mengerti perasaan kamu. Dan kamu selalu berharap di akhir persinggahan nanti akan ada pelangi yang indah.  Perjalanan panjang dan otakmu masih saja berpikir, memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang kerap kali hadir. Saat itu juga kamu mencoba untuk menjawab semua pertanyaannya, namun apa daya kamu sendiri tak bisa menjawabnya. Sakit rasanya harus terus menerus di hantui semua pertanyaan-pertanyaan yang buatmu gelisah. Sesekali kamu men...

Lembar Kelima

"Sendu di ujung Rindu" Akhir-akhir ini kamu ngerasa sendiri kesepian seringkali hadir ketika waktu-waktu tertentu yang buatmu seolah-olah dunia ini sepi. Saat itu tiba-tiba kamu sendu, entah kenapa ini terjadi padahal baru saja kamu asik main handphone scroll tiktok dan instagram. Pikiran apa yang sedang bekerja atas diri ini. Beberapa kali menghela napas panjang namun sendu ini tak ada ujungnya.  Apakah kamu rindu ? rindu dengan orang-orang lama yang setiap harinya mengisi hari-harimu, memberi warna dalam kehidupanmu. Ya, sepertinya kamu rindu, hanya saja waktu tidak bisa di putar kembali. kuncinya kamu harus bertemu dengan orang-orang yang kamu rindukan.  Jika kamu rindu dengan masa kecilmu yang tidak inging buatmu menjadi dewasa, maka ingatlah seberapa kamu hebat saat itu, seberapa menggemaskannya kamu waktu bermain saat itu. Jadi dewasa itu bukan pilihan tapi kenyataan yang harus di jalani.  " Jika sendu berujung rindu, saat itu juga udara meniupkan anginnya dan mata...

Lembar Keempat

"Langkah dan Amarah" Sepertinya kamu mulai menemukan sebuah hal baru dalam hidup ini, sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang bisa kamu jadikan pembelajaran dari sebuah proses pendewasaan. Beberapa langkah lagi kamu akan tiba pada tujuan pertamamu, jika tujuan pertama mu tak sesuai dengan rencana mu. Maka kamu jangan sekali-kali kecewa terhadap diri kamu. Sejatinya kamu sudah melangkah sejauh ini, jangan luapkan kemarahan mu jika tujuan pertama mu tak sesuai ekspektasimu. Tujuan pertama mu memang tidak sesuai dengan rencanamu tidak apa-apa. Mungkin kamu harus perlu banyak langkah lagi agar rencana mu tepat pada tujuan mu.  Sungguh luar biasa, jika saja saat itu kamu berdoa kepada Tuhan di setiap langkah mu agar sesuai dengan rencana mu, mungkin tidak akan seperti ini jadinya. Atau mungkin kamu sudah berdoa kepada Tuhan tapi tetap saja tidak sesuai dengan rencanamu saat ini. Jangan bersedih Tuhan sedang mempersiapkan itu di waktu yang tepat. Simpanlah amarah mu, syukurilah ...

Lembar Ketiga

"Proses Panjang Menuju Kedewasaan" Hari-Hari berlalu entah sudah berapa banyak kaki ini melangkah, menentukan arah yang tak pasti sangat lelah rasanya. Beberapa kali singgah hanya untuk sekadar menghela nafas. Jadi dewasa berat ternyata rasanya. Coba bayangkan saja, beberapa kali gagal, beberapa kali jatuh, kerap semua itu datang silih berganti. Dan kamu harus bisa melewatinya, lalu bagaimana jika semua kegagalan dan kesedihan selalu datang menghapiri serta kebahagaian tanpa pernah memperlihatkan wujudnya di hadpan mu. Apa yang salah dengan diri ini ? harus kah menjadi dewasa seperti ini ?, ini bukan seperti apa yang kamu kira, bukan seperti apa yang kamu pikirkan ketika kamu kecil. "Jadi dewasa itu menyenangkan yaa, bisa bebas pergi kemana saja, bisa membeli apa saja, bisa melakukan apa saja". Rasanya kamu ingin kembali ke masa kecil itu lagi dan segera tidak mengatakan itu, justru sebaliknya kamu mengatakan "Aku tidak ingin menjadi dewasa".  Memang semu...

Lembar Kedua

"Luka Batin"  Bagaimana sudah sudah lekas atas kesedihan, kekhawatiran dan kegelisahanmu selama ini ? Mencoba menerka-nerka jalan yang semestinya akan di tempuh memang terlihat sulit rasanya, sakit dan tidak tahu harus melangkahkan kaki seperti apa. Hari-hari berlalu yang tak tentu untuk mencari sesuatu yang dianggap akah berhasil dan menemukan sebuah kebahagian. Bingung rasanya harus terus menerus seperti ini, ku coba langkahkan kakiku dengan secara perlahan, memasang dua pandangan mata dengan jelas dan sepertinya aku memasuki ruang hidup.  Ruang hidup, sejatinya sebagai manusia kamu akan melewati sebuah ruang hidup, fase-fase kehidupan dan proses pendewasaan yang membuatmu semakin kuat dalam menjalani hidup tak terkecuali kamu hanya menjadi bayi kecil yang tak tumbuh besar. Bagaimana mungkin kamu bisa berjalan sejauh ini tanpa sebuah ujian, cobaan, dan masalah yang datang di hidupmu membuatmu menjadi orang yang kuat dan hebat. Coba bayangkan sejenak sudah sejauh mana kamu m...

Lembar Pertama

"Selembar Kertas Kosong" Semua ini adalah proses perjalanan hidup, mungkin kamu semua pasti sudah melewatinya atau bahkan kamu akan melewati proses ini. Sebuah proses yang akan membuatmu harus terus berjuang melawan apapun yang datang di hidupmu, entah itu positif atau negatif. Dan hanya kamu yang bisa menilainya.  Yaa, proses pendewasan Ini bukan yang membuatmu overthinking , ambisiusmu yang tinggi, tekad mu yang bulat namun keadaan tak sejalan dengan proses pendewasaanmu. Mungkin ini yang kamu khawatirkan saat ini, dimana semuanya dimulai ketika kamu menginjak di umur 20. Semua ketakutan itu semuanya singgah di kepala kamu hingga kepalamu seperti ingin pecah rasanya.  Sabar memang itulah sebuah proses. semuanya bisa di lalui asalkan kamu menikmatinya ya, walaupun bukan untuk dinikmati setidaknya kamu bisa berdamai dengannya.  Saat ini mungkin di kepalamu sedang banyak pertanyaan yang mungkin kerap kali menghantuimu di setiap harinya. pertanyaan-pertanyaan yang buat kamu...

Selembar Kertas

"Prolog" Hai, Ini merupakan coretanku. Dimana aku menuliskan ini di waktu yang menurutku pas. Barangkali jika ingin berkenalan denganku kamu bisa mengunjungi ku di instagram @selembarkertas.kertas.  Inilah kertas pertamaku, Selamat Membaca semoga menyukainya. "Jika satu hari diibaratkan selembar kertas, maka waktu yang akan menjadi perekat untuk mempersatukannya." -Selembar Kertas-  Sebuah curhatan yang menjadi catatan